KETIKA JENDELA SUDAH AKU TUTUP

di ambang jendela, aku berdiam lama-lama,
dalam detik-detik hening, dari waktu yang
tak tahu ke mana lagi akan sampai.

jam terus berputar bimbang. akankah tiba
pada saat ketika Tuhan berhenti mengawasi?
hingga aku tak perlu lagi berdoa, lalu
mengutuki segala sepi.

*

sebenarnya hari begitu cerah; jendela rumahku
tak luput dari sejuk udara pagi, dan tirainya
tersingkap untuk permai cahaya matahari.
hingga aku terlibat dalam kesan yang panjang,
lalu jiwa di ajari sejatinya sebuah perasaan.

namun kehidupan di luar, dengan wajah penuh
kemunafikan, yang kutengok melalui kaca jendela,
seperti masam ekspresi iblis dalam mimpi setiap
nubuat.

sayang, mungkin aku bisa bersembunyi dari dunia,
tapi tak bisa menghindar untuk melihatnya.

*

mungkin, karena kopi secangkir, membuat aku pungkir
: apa arti tetap berdiri di ambang jendela,
jika kehidupan kepadamu slalu memanggil
untuk memberi pengalaman seru, atau kesempatan lain?

dan aku tetap menunggu akan datangnya malam
ketika jendela harus kututup, dan khayalan kuteruskan
dengan mata terkatup, hingga dunia begitu damai
kelewat damai.

Bandung, pada 23 Juni 2011 jam 18:33
Last Coccaine Dark Poetry
( Semoga karya ini tidak terlalu dangkal bagi sahabat yang membacanya, bulan juni ini begitu gelap, dengan suasana yang pelit inspirasi )

~ oleh penyairtimur pada 24/07/2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: