NYANYIAN TERAKHIR PEMANDU LAGU

: pemandu lagu itu di boking keadaan.

diroom karaoke, remang kembali memberi kabar
tentang nasib dan perjudian yang bergeliat dalam samar
juga pertaruhan yang menawarkan banyak khayalan
namun kemenangan, seperti membaca takdir lewat guratan garis tangan;
ah, apa ada yang pasti didunia
seribu catatan, merangkum kisah sepanjang hayat manusia
kita akan slalu menjadi orang yang memiliki harapan dan kehilanganya

malam gemerlap pun menjadi malam yang sesungguhnya
bagimu, perempuan yang slalu menitipkan mimpi pada bingarnya;
nikmatilah, sebelum pesta harus berakhir!
ketika kita bisa menenggak bergelas – gelas vodka
ketika dunia kepadamu melambai untuk kekalkan kemabukan
dalam fana yang slalu meyakinkan akan adanya kebahagiaan
bagaimana kita bisa sepenuh percaya,
pada sesuatu yang slalu tersembunyi dibalik misteri;
panas neraka, damai surga dan segala kegaiban janji – janji
hanyalah baka,
hanyalah luka

lalu kau nyanyikan sebuah lagu, memutlakan kemeriahan
katamu itu tembang tentang kehidupan
tapi aku dengar hanya langgam suara yang enggan,
irama kacau, nada yang tak pernah bisa menghapal notasi
dilirik awal, hingga nafas penghabisan

musik terus mengalun, mengeja bunyi – bunyi hati
sebuah simponi terbaca dengan seribu arti
namun hanya memekakan gendang telinga,
dan berakhir seperti gumaman
menghilang, tanpa meninggalkan sekenang kesan

*

malam telah larut, bersama juga dengan jiwamu
dalam gairah sundal, hasrat sesaat itu
dan pergumulan panjang yang merambati waktu;
seluruh yang kau kenakan pun ditanggalkan
telanjang. di tubuhmu, ada luka yang amat aku kenal
seperti memungut kembali lembar lembar usang
yang perna aku robek dibuku harian

yang kasat, hanya menatap tak pasti
bilur – bilur berwarna legam itu mungkin merih yang tersisa
sebelum mati, dan kau tak mau mengerti.

*

kau menjemput segala geletar dalam gegas demikian lekas
mengukir jejak dari keindahan ke keindahan yang bertaut batas

namun, laksana mentari yang merambah gugusan hari
untuk melukis cakrawala dengan warna yang sempurna
dari dua ufuk langit; dari kutub barat dan timur daya
dari pagi yang membentangkan fajar
menuju senja yang menawarkan lembayung dengan warna merah pijar
bayangan slalu mengikuti kemana cahayanya pergi
hitam yang pekat, begitu lekat
seperti penat dalam stagnat

*

dalam nasib dan perjudian, waktu hanyalah sembilu
tapi kau terus menancapkanya lebih dalam, ke dasar
dada yang berdegup untuk memuja hasrat meliar
seperti membangun pusat kota di batin,
menjual asal usul untuk masa depan.
Apakah sesungguhnya kamu tahu yang kamu inginkan?

saban hari pun melulu merekahkan luka yang parah.
nganga, tak ada yang dapat memastikan seberapa sakitnya perih
bahkan tangis itu tak memberi jawaban, hanya merupakan bukti,
bahwa dalam hidup, tidak ada yang lebih dinanti selain mati.

maka engkau hitung setiap detak jarum jam, yang terus memutar
nada – nada kehidupan dengan hasrat yang menggeletar
seperti alam yang menanti perguliran musim dalam kemarau panjang
dengan sebuah keyakinan, akan hadir iklim yang lindapkan gersang

namun mimpi, hanya berakhir sebagai mimpi
pohon – pohon rangganya telah mati sebelum datang semi

*

Benarkah, dalam gemerlapnya kehidupan hanya ada tawa?
kau tak menunggu jawaban, hanya lenguh panjang
dan memimpikan subuh lekas menjelang
untuk membujuknya pulang, lalu menghilang
dalam bayang, dalam lengang.

dan bernyanyi di kehampaan
hingga tak ada lagi lagu yang bisa disenandungkan

Bandung, mei 2011
+Last Coccaine Dark Poetry+
Mohon tinggalkan komen, dan blak blakan saja!

~ oleh penyairtimur pada 08/06/2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: