Tuhan; Sosok Remang

Tuhan perang, benarkah itu Engkau? Wajah itu
yang mereka tunjukan pada dunia. Bertapa aku
tak bisa mengenalimu lagi. Dalam iman yang
dimiliki dan kesunyian, ku seperti pohon badam
yang ranggas digerus gersang gurun, tumbang
diatas tanah yang menumbuhkanya, lalu rabuk
sendiri.

Sebab Engkau yang slalu ada dalam segala sesuatu
dan waktu, begitu tanpa batas definisi dan identitas.
Jiwa yang ragu, membayangkanMu sesuai dengan
keinginan sendiri, hingga Kau semakin terselubung
dan tak terpahami.

Dewa para tentara, itukah Engkau? Yang slalu
menginginkan aku kuat dalam hasratMu, untuk
mencari kebenaran dalam kesejatian, bukan dari
sesuatu yang kasat.

Mengapa sosokMu begitu banyak tafsir, begitu
banyak makna, bahkan sebatas terkaan? sehingga
proses pemikiran rasional berpencaran keberbagai
kutub arah berbeda. Adalah perpecahan, alamat
manusia menuju dengan parang yang erat ditangan,
dan keyakinan yang patuh dihati.

Panggeran tirani, apakah itu juga Engkau? Zat yang
sama ketika aku temui dalam kesyahduan disetiap
qiyam, rukuk, sujud, dan doadoa yang mengiringinya.
Aku kira Engkau hanya memberikan cahaya saja, supaya
kehidupan manusia terang, meski bila tanpa mentari.

Maaf, aku banyak bertanya! Sebab percaya, maka aku
mencari kepastian. Bukankah tak kenal maka tak sayang

Last Coccaine Dark Poetry
pada 28 Februari 2011 jam 18:33

~ oleh penyairtimur pada 24/07/2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: