Purnama Tiga Belas

Senja menangis di bahu langit
Atas kesaksiannya membunuh matahari
Demi menuliskan puisi
Dan menenggak kerigat penyair
Pembual yang mengabadikan jingganya pada pesan cinta

…..
Tik tak tik tak
…..
Setelah detik benar-benar mati tercekik
Gerimis merobohkan mataku
Meliukkan jemarinya
Mengiringi senja yang masih lunglai
Keracunan rindu peyair pagi

“aku adalah fajar yang tertunda”
Tentang senja yang menuliskan biografinya pada pelangi

Dibisikkannya pada gelombang laut :
Aku membunuh matahari
Aku tak ingin ada pagi
Karena aku memujanya

Purnama tiga belas
kebekuan senyum yang menganga
di langit yang telanjang

Harina Amalia

~ oleh penyairtimur pada 24/07/2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: