[semacam] diskusi

[Juned Topan] Ketika puisi tak sanggup memberi cerah pada jiwa..buang saja ke tong sampah.. Sebab penyair hanya pembual dan pengembara sia sia..termasuk aku , dirimu dan mereka yg tidak pernah melaksanakan kata kata

[Almarhum Dendi Septyadi] penyair harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang dia tulis,bukan begitu kawan?

[Jiwa Yang Mati] Betul,tp slah

[Almarhum Dendi Septyadi] indah tapi tidak indah

[Arung Bunne] kita pake logika terbalik saja, gini kalo kita tidak
(pembaca) tdk lagi tercerahkan dengan kata2 termasuk kata2 dari puisi sebagai manifestasi dari masyarakat maka lebih baik sembunyi sja ke tong sampah deh…hhehehehe

[Juned Topan] Penyair adalah anak anak jaman yg sengaja di lahirkan tuhan , dgn kekuatan imajinya penyair menyampaikan fikiran fikiran yg di usungnya dari lapis langit tinggi untk mencerahkan jiwa masyarakatnya agar bergerak aktif membangun peradaban , dlm rangka menegakkan kembali jati diri kemanusiaan , bukan sibuk merekayasa imaji lalu berbusa busa kata agar mendapat pengakuan sebagai pujangga dari sesama makhluk .

[Almarhum Dendi Septyadi] ide bagus bung,jadi penyair jangan cuma bisa menebar cinta dan menyemai benih-benih rindu saja
jangan cuma menulis kalau lagi kasmaran saja
jangan cuma menulis kalau lagi sakit hati saja
jangan cuma menulis untuk diri sendiri saja

jadilah AKU untuk orang lain
jadilah AKU untuk perubahan

[Arung Bunne] oleh krn penyair adalah anak anak jaman yg sengaja di lahirkan tuhan , dgn kekuatan imajinya penyair menyampaikan fikiran fikiran yg di usungnya dari lapis langit tinggi untk mencerahkan jiwa masyarakatnya agar bergerak aktif membangun peradaban , dlm rangka menegakkan kembali jati diri kemanusiaan, sehingga syair2 itu memiliki banyak aspek…baik sosial maupun bukan…itu semua untuk mengcover semua kebutuhan masyarakat agar semuanya bisa tercerahkan.

[Arung Bunne] penyair adalah salah satu corong komunikasi budaya dan peradaban sebuah masyarakat dimana penyair itu berada…

[Juned Topan]Puisi yg secara etimologis berasal dari bahasa yunani
yaitu poites yg bermakna pembangun , pembentuk , pembuat dan di kerjakan oleh orang orang yg menyukai dewa dewa atau orang yg di klaim separuh dewa seperti filsuf negarawan dan para pendidik , seiring perjalanan waktu , makna tersebut menyempit menjadi salah satu karya sastra yg terikat oleh kaidah semacam diksi rima ritma maupun sajak dan lahirlah puisi puisi dgn beragam bentuk dan penyairpun berkomplot dlm persekutuan persekutuan dan masing masing mengklaim sebagai pembela kesusastraan . Pada akhirnya penyair penyairpun mati , bentuk bentuk perpuisian ikut tergerus jaman , tapi tdk dgn fikiran dan gagasan gagasan penyair , karna fikiran akan terus hidup dan menggerakkan masyarakat pembacanya

[Arung Bunne] kalo tdk dgn fikiran dan gagasan gagasan penyair, terus masalahnya apa…? bukankah puisi2 itu adalah buah fikiran dan perenungan panjang dan gagasan2 penyair, sedikit banyaknya dapat menjadi pembangun jiwa, pembentuk karakter, dan pencetak potensi yg tersumbat di bawah sadar masyarakat sekitarnya dimna penyair itu berada… sehingga ketika puisi ini tidak mampu menyadarkan mereka, maka justru merekalah akan tergers jaman yang putarannya semakin menggila…

[Arung Bunne] penyempitan makna puisi menjadi salah satu karya sastra itu bukti adanya dinamisasi di dalamnya, dgn munculnya beragam bentuk puisi adalah sebuah bentuk dinamisasi itu dan itu sahsah saja untuk mengcover keberagaman peminatnya…persekutuan… penyair jg adalah tdk terlepas adanya dinamika terus mengalir di dunia sastra dan itu jg sekali sesuatu hal yg positif sehingga sampai detik ini kita pun masih dapat sisi positif dari kreatifits mereka dalam membangun kesusastran dan peradaban…persekutuan yg mereka bangun adalah manusiawi sebagai manusi memiliki naluri untuk bersatu dgn adanya persekutuan itu kita bisa menikmati indahnya warna warni dunia sastra dari dulu sampai detik ini….:

[Juned Topan]Nah di sinilah saya ingin sampaikan bahwa bentuk sastra secara umum atau puisi khususnya boleh mengalami pergeseran makna juga perubahan bentuk , tapi fikiran tdk akan , dan penyair harus mempertanggung jawabkannya . Jika fikiran fikiran baik yg di usung dari sumber kebenaran dan tersemai pada media/pembaca yg baik maka fikiran fikiran tsb akan tumbuh bak pohon yg menghasilkan buah dan akarnya kuat mencengkram bumi , tapi bagai mana dgn penyair yg terjebak dgn fatamorgan yg sering di hadirkan oleh fikiran fikiran yg tdk bersumber dari hukum kebenaran ? . Dan kita semua tahu bahwa peradaban terbangun atas pertikaian fikiran fikiran baik dan buruk , antara pembela yg haq dgn pembela kebathilan , dan kita sedang berpihak siapa ?

[Almarhum Dendi Septyadi] tulisan yang tidak pernah dibaca seperti ular yang tidak ada bisanya: kita harus menumbuhkan kembali minat baca agar ada regenerasi di kalangan pecinta puisi..

[Arung Bunne]justru fikiran2 itulah yg berubah dan berkembang terus seiring dgn perjalanan waktu, dgn perkembangan fikiran itulah (penyair) menyebabkan perubahan bentuk itu..dng perkembangan fikiran sangat mempengaruhi pengembangan dan peningkatan sebuah peradaban…dulu manusia tdk tahu menahu membangun rumah seperti sekarang tp krn perkembangan fikiran manusia bisa seperti sekarang ini dan itulah salah contoh peradaban…sepeti itulah jg di dunia ssastra…apakah dgn pintarnya manusia membuat rumah kemudian menghukumi baik dan buruk, hak dan batil…?

[Arung Bunne] jadi terjadinya beragam bentuk krn hasil dari pengembangan fikiran itu sendiri..fikiran itu tdk stagnan tapi mutajadid (berkembang) terus…

[Arung Bunne] almarhum : bukan ular yg tdk ada bisanya, tapi ular yg sedang tidur.. perlu dibangunkan agar bisa memanfaatkan bisanya… nah…, bagaimana cara menumbuhkan minat baca itu yg penting bro.., agar ada regenerasi dikalangan pecinta puisi…:)

[Juned Topan] Betapa dahsyatnya gagasan dan pemikiran yg di tiupkan seseorang, karn semangatnya mampu merubah dunia , Thomas Pain dgn Puntung berasapnya tlh mengilhami masyarakat Amerika untk mengadakan perubahan dan terjadilah revolusi,bagaimana dgn fikiran fikiran Hegel Nietzce dan Filsuf 2 lainnya yg telah membentuk paradigma berfikir masyarakat barat,dan bagaimamana dgn fikiran fikiran Plato tentang demokrasi,seperti virus mewabah menjangkiti hampir seluruh belahan dunia ,terus bagaimana dgn konsep sosialisme Lenin,Karl Marx yg tak henti bertikai dgn Kapitalisme,dan banyak lagi . Disini saya hanya mengingatkan bahwa seseorang harus bertanggung jawab dgn fikiran fikiran yg di deklarasikannya,dan berpegang eratlah dgn tali Allah agar senantiasa terbimbing hati dan fikiran kita,agar tdk sembrono mengadopsi fikiran fikiran orang lain .

[Hans Pramudya] ini baru aliansi!
diskusi yg menarik
membentuk penyair yg pekerja dan pemikir,
bukan penyair yg cuma pengigau.

[Juned Topan] Maksud saya juga seperti itu , estetika disini tdk cuma terpaku pada bentuk puisi , tapi orisinalitas pemikiran yg telah melalui proses kontemplasi secara benar , dan dgn kekuatan kata kata , fikir fikiran itu terbang menyinggahi ruang gelap jiwa dan bagai kunang kunang menghiasi sisi gelap malam yg tak tersapa rembulan .

[Arung Bunne] kau kan tadi bilang…: “puisi khususnya boleh mengalami pergeseran makna juga perubahan bentuk , tapi fikiran tdk akan”, padahal pergeseran makna dan perubahan itu kan hasil dari perubahan  fikiran2 (berkembang) yg dinamis dikalangan para …sastrawan… kau jg mengatakan : “Pada akhirnya penyair penyairpun mati , bentuk bentuk perpuisian ikut tergerus jaman , tapi tdk dgn fikiran dan gagasan gagasan penyair , karna fikiran akan terus hidup dan menggerakkan masyarakat pembacanya”, iya,..harus kita ingat bahwa penyair2 itu bisa saja mati tp bentuk puisi trus ada sebagai tempat embrio gagasan2 penyair yg sudah mati…sehingga kita yg datang kemudian bisa melakukan penelitian, seandainya tdk ada bentuk maka atas dasar apa kita meneliti, atas dasar apa kita membangun gagasan2 penyair itu.
kalo penyair diibaratkan dengan gajah, maka bentuk itu adalah gadingnya gajah itu…pepatah mengatakan “gajah mati meninggalkan gading”… meskipun sebenarnya fikiran melahirkan bentuk dan bentuk melahirkan fikiran2 baru..dan seterusnya…

[Almarhum Dendi Septyadi] kalau ular yang sedang tidur lebih tepat ditujukan buat penyairnya mas,,
maksud saya bahkan puisi yang punya ‘ruh’ sekalipun kalau tidak ada yang membaca akan menjadi percuma.
yang membuat saya prihatin ditengah buruknya minat baca generasi muda,puisi hanya dijadikan ajang lomba,lalu dinilai secara
subjektif oleh juri,puisi hanya dilihat bentuknya saja,bukan
isinya,isi yang ingin disampaikan penulis kepada pembacanya

[Arung Bunne] pemikiran2 mereka adalah salah satu bentuk warna warni dunia ini….dan itu akan dipertanggung jawab oleh pemiliknya masing2, dan lahirnya pemikiran mereka itu tdk terlepas dri kondisi dimana mereka berada…para sastrawan jg begitu halnya…kalo dia lagi rindu misalna maka puisinya pasti puisi kerindua, atau melihat lingkungan dimana dia berada perlu semangat maka puisinya puisi hamasah yg menggugah semangat..tidak mungkin ia dalam keadaan rindu terus menulis
puisi sosial lain tentu tdk…

[Arung Bunne] almarhum: itu masalah metode atau cara..nah sekarang bagai mana agar puisi itu tdk hanya sekedar dilombakan, dan nilai subyektif dan bisa dipahami isinya (maksud penulisnya)…sekali itu masalah metode/cara…itu yg anda harus cari untuk memperbaiki minat baca generasi muda…bukan justru menyerang orang yg sudah melalukan sesuatu menurut dia positif sekali, kondisinya memang baru seperti itu…:)

[Arung Bunne]   almarhum ; masalah yg kita hadapi di indo itu adalah kita tdk memiliki keritikus sastra memadai. kritikus sastra yg saya maksudkan adalah orang yg mampu mengurai isi dan maksud penyair yg tertuang dalam karya2nya kemudian mentransformasikan…nya ke khalayak umum (masyarakat)…bukan orang yg justru menghujat setiap karya2
orang lain, itu bukan kritikus tp penghujat sedangkan hujatan itu adalah dosa..hehehe… penyair tugasnya adalah berkarya dan berkarya terus berkarya…nanti para kritikus inilah yg menilai alias jg pembaca…sehingga dalam metodoligi kritik ada namanya jamaliatuttalaqqi…yg membahas masalah yg terkait dengan pembaca…:)

[Almarhum Dendi Septyadi]
‎’jurnal sastratuhan hudan’
‘saut situmorang’
..
dua-duanya kritikus sastra yang satu FBnya kena cekal yang

satu blognya kena hajar hacker..

…masih banyak kawan yang belum bisa menerima kritik..

[Arung Bunne] iya..kalo kritiknya menghujat… pasti tdk ada yg mau menerima…tp kalo kritiknya membangun pasti smua orang
bergembira…:)

[Arung Bunne] mengkrisi karya orang itu jg ada tatakramanya…:)

[Almarhum Dendi Septyadi] nah kalau yang sopan ya itu,jurnal
sastratuhan hudan si kritikus budiman..
sayang blognya kena hajar hacker.
sebagian tulisannya hilang..

[Arung Bunne] iya…memang beliau kritikus budiman….yang kita miliki saat ini…itulah tabiat sebagian diantara kita…itulah…:)

[Juned Topan] Polemik yg di bangun HB Yasin dan ST Alisyahbana
sebenarnya menguntungkan perkembangan kesusastraan pada waktu itu , terus bagaimana jika penyair memasuki ranah politik , maka kritik kritik mereka menjadi tdk obyektif, malah saling membantai satu sama lain seperti yg terjadi antara Manikebu dgn Lekra .

[Arung Bunne] obyektifitas puisi tdk boleh kita ukur dengan temanya seperti misalkan seorang penyair mengangkat tema politik dalam karya kemudian kita menilai tdk obyektif, itu justru kitalah yg tdk obyektif dalam menilai…mereka saling membantai satu s…ama lain persoalannya lain lagi..mungkin krn mereka tdk mau bersinergi antara satu dengan yg lain untuk menciptakan terobosan baru di dunia sastra…coba kalo mereka bersinergi tentu keadaannya lain… kemudian budaya kita jg suka mengangkat2 perbedaan bukan justru menemukan persaman untuk kemudian bersinergi akan menghasilkan produktifitas sangat besar/tinggi…masalahnya mengapa mereka kemudian tdk mau bersinergi satu sama lain krn menurut sy adalah faktor kendala keangkuhan…:)

penyair memasuki ranah politik bukan berarti tdk “obyektif”, di zaman jahilyah sebelum datangnya islam itu yg berhak memimpin kabilah atau suku2 dizaman itu adalah orang utusan menang dalam perlombaan puisi, dan puisi pemenang kemudian digantung di kabbah sebagai bentuk apresiasi bagi kabilahnya….:)

[Juned Topan] Netralitas serta independensi seorang penyair
mempengaruhi proses kreatif mereka , sekali lagi kebebasan berfikir yg berorientasi pada pengabdian kepada sang pemberi kehidupan akan melahirkan fikiran fikiran yg di semangati cinta kepada rob… maha suci dan terhindar dari fikiran fikiran yg di semangati riya’ ujub dan dengki yg hanya mencari pengakuan dari sesama makhluk , ribuan tahun kearifan karya karya para sufi semisal Sa’di Rumi Athar Rabi’a Ansyari Iqbal dll dgn kesederhanaannya tetap kuat menghunjam merasuki ruh para pembacanya

[Arung Bunne] justru itulah krn independensi seorang penyair itu
sehingga ia bebas mengambil tema termasuk tema politik sebagai
representasi masyarakat di mana sang penyair itu berada….dan sekali lagi kita tdk boleh su’u zhan (prasangka buruk) terhadap…
sesama…memang sekali2 kita harus diakui dan memang harus
diakui…kalo tidak, akan mendatangkan masalah baru dalam
kelangsuangan kemanusiaan, sedangkan riya’ ujub dan dengki adalah warna warni kehidupan manusia yg harus diobati dan itu akan terus menimpa manusia siapa saja…. sa’di rumi rabiah dan ikbal…mereka adalah penyair2 hebat yg memilih tema religi khusunya sufi…. dan itu sah2 saja…

[Juned Topan] Tapi bukan berarti proses kreatifitas kita di semangati keinginan untk mendapatkan pengakuan dari sesama penyair dan para kritikus kritikus itu.. Wasalam .. Trimakasih kawan atas sharingnya ..

Selamat berkarya !.

[Ridho Sang Rajawali] Kebenaran itu memang selalu pahit

[Almarhum Dendi Septyadi] karya chairil melangit saat penulisnya sudah mati..

#mungkin bersambung

~ oleh penyairtimur pada 13/12/2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: