Mengarti Jawaban

•27 Juli 2011 • 1 Komentar

ketika api kehilangan perciknya
tak lagi indah karena merah-birunya
mungkin seperti air yang tiada lagi tetes-menetes
yang bening dan menyejukkan

Mengapa abad begitu cepat terlewat
Oh Yang Maha Agung..
Padahal kesempatan ini hanya sewindu hitungan waktuMu

Seharusnya aku adalah api
Dan memang petunjukmu adalah perciknya yang indah
Dan kau menciptakan aku dengan segaris mata
Memberi air yang tetes-menetes
Adalah jawabanMu yang belum bisa kuartikan dengan nyata

[Harina Amalia]

KAMU DAN BINTANG KEJORA

•27 Juli 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kuintip langit malam lewat jendela kamar
Tiba-tiba seekor kupu-kupu kecil hinggap dikaca bening
Setitik bintang kejora yang genit mengedipkan mata
Dedaunan bunga melati berwarna hitam
Nampak bayangmu dan bintang kejora bergandengan
Terbang melintasi awan dilangit malam

Ingin aku terbang jauh tinggi mengejarmu bersama bintang kejora
Menembus batas langit tertinggi
Sehingga kita bisa melihat bumi yang biru
Yang sarat dengan kekacauan

Kamu,
Bolehkah aku ikut denganmu yang menggenggam setitik bintang kejora?
Menjelajah sorga dan neraka
Agar kita bisa belajar bahwa baik dan buruk selalu ada selamanya

Kamu,
Biarkan kubawakan bintang kejora itu untukmu
Agar kau bisa bebas mengepakkan sayapmu
Ingin kuikut kemana kau pergi
Melintas batas awan dan batas langit paling tinggi

Dari balik jendela kamar ini aku ingin mengembara
Menjelajah sorga dan neraka

[maymintaraga]

Bosan

•27 Juli 2011 • 1 Komentar

Adakah pundak untuk menyandarkan kepala?
Adakah tangan untuk menyeka?
Adakah tubuh untuk dipeluk?
Diatas kepala kabut kelam terpampang. . . . . .
Aku orang hitam yang mencari seberkas cahaya,namun disiram dengan cat arang beraromakan kebiasan. . .
dijalan yang gelap

[Jiwa Yang Mati]

belajar menjadi anjing #1

•27 Juli 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

malam

ini sepi

sunyi

hanya makanan sisa
dan tai anjing kering,

tai anjing lainnya

tai

setia menunggu

[Almarhum Dendi Septyadi]

lelaki tanggung bulan

•26 Juli 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

lelaki tanggung bulan

selalu nolak kalau diajak kencan
apalagi kalau pacar lagi halangan
pasti cari alasan biar bisa ngeles waktu diajak jalan

ga berani datang kalau ga punya uang

lelaki tanggung bulan

ahir bulan janjinya manis-manis
awal bulan ngemis-ngemis sambil meringis

ga punya duit keder setengah mati

lelaki tanggung bulan

ga akan mau jalan-jalan
kalau pacar lagi datang bulan

soalnya ga bisa curi-curi kesempatan
buat nakal-nakalan

dasar lelaki tanggung bulan

Almarhum Dendi Septyadi

yang terlahir dalam sepi

•26 Juli 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

kesepian tak pernah membunuhku

sepi selalu
jadi teman yang setia mendampingi

dalam hening kucipta puisi

maka menulislah
torehkan jejak pada sejarah
biarkan getah itu tumpah
meski harus jadi nanah

menulislah

bukan untuk larikan diri dari masalah
bukan untuk kepentingan trah penguasa
bukan untuk popularitas semu dalam dunia maya

berjalanlah di trotoar pada siang hari,
lihat betapa panas dan berdebu
hitung berapa kali langkahmu terhalang

lalu temui dirimu
dalam sepi

Almarhum Dendi Septyadi

tragedi kopi dingin

•26 Juli 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

aku sebal

kemarin malam temanku mati
terbunuh oleh cinta

brengsek itu harusnya ikut menulis

tapi dia mati

hilang
tanpa jejak

mungkin diculik kalong wewe

aku sebal
entah dimana nurani bajingan berkumis tipis itu

rasanya seperti minum kopi dingin sendirian ditambah dua bungkus rokok sialan,

bikin keluar isi kepala

kalau ketemu dengannya dijalan rasanya aku ingin muntah

ingin muntah ke mukanya menumpahkan segala kesal

dia yang bikin isi kepala keluar semuanya

si kumis sial

+Almarhum Dendi Septyadi+

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.